Sebuah penelitian terbaru dari Stanford University mengguncang dunia biologi molekuler. Selama puluhan tahun, dogma biologi mengajarkan bahwa DNA hanya dapat dibuat dari template DNA atau RNA. Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa ada enzim bakteri yang mampu membuat DNA dengan menggunakan protein sebagai templatenya — sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak mungkin. Laporan ini pertama kali mencuat melalui DongA Science dan diperkuat oleh artikel Science.org yang menyebut temuan ini sebagai “cara baru kehidupan menghasilkan DNA”.

1)Sistem Pertahanan Bakteri yang Menyimpan Kejutan

Penemuan ini berawal dari penelitian terhadap sistem pertahanan bakteri bernama DRT3. Sistem ini terdiri dari dua enzim reverse transcriptase dan satu molekul RNA. Salah satu enzim bekerja seperti biasa, tetapi enzim kedua disebut Drt3b menunjukkan kemampuan yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

-Drt3b dapat membuat DNA tanpa template DNA atau RNA, tetapi menggunakan struktur protein sebagai panduan.

2)Mengapa Ini Sangat Penting?

·Temuan ini menantang dogma sentral biologi yang selama puluhan tahun dianggap mutlak: DNA → RNA → Protein

·menunjukkan bahwa informasi genetik bisa mengalir dari protein kembali ke DNA, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

·membuka kemungkinan bahwa mikroorganisme memiliki mekanisme biokimia lain yang belum pernah dipelajari.

Para ahli menyebutnya sebagai penemuan yang mengubah paradigma.

3)Bagaimana Cara Kerjanya?

Peneliti menemukan bahwa Drt3b:

1.Membaca bentuk dan sifat kimia protein, bukan urutan nukleotida.

2.Menerjemahkan pola protein menjadi sinyal kimia.

3.Menyusun DNA baru berdasarkan pola tersebut.

4.Melakukan seluruh proses ini tanpa template DNA/RNA.

Dengan kata lain, enzim ini bekerja seperti penerjemah bentuk protein menjadi kode DNA—sebuah konsep yang sebelumnya tidak pernah ada dalam biologi.

4)Fungsi Alami DRT3 dalam Bakteri

Peneliti menemukan DRT3 saat mempelajari bagaimana bakteri melawan virus (bakteriofag).

Dugaan fungsinya:

·DNA yang dibuat DRT3 mungkin bertindak sebagai “penjebak molekuler” untuk menangkap komponen virus.

·Atau DNA tersebut memicu respons imun lain dalam sel.

sistem ini mungkin merupakan bagian dari mekanisme pertahanan kuno yang belum pernah dipahami sebelumnya.

5) Potensi Teknologi Baru

Seperti CRISPR yang awalnya ditemukan sebagai sistem pertahanan bakteri, DRT3 berpotensi menjadi alat bioteknologi masa depan.

Keunggulan DRT3:

·semua fungsi pembuat DNA sudah ada dalam satu kompleks enzim,

·tidak membutuhkan template DNA/RNA,

·dapat menghasilkan DNA dengan urutan tertentu berdasarkan struktur protein.

Hal ini mendukung keberlanjutan teknologi jika ini dapat direkayasa, ia bisa menjadi alat baru untuk membuat DNA secara presisi, bahkan mungkin untuk desain biomolekul generasi berikutnya.

“Temuan ini membuka kemungkinan bahwa protein tidak hanya berfungsi sebagai produk akhir ekspresi gen, tetapi juga dapat menjadi sumber informasi genetik. Jika mekanisme ini dapat direkayasa, kita bisa membayangkan teknologi baru untuk desain DNA berbasis struktur protein. Ini adalah lompatan besar bagi bioteknologi modern.”

— Wiwit Probowati,Ph.D. Dosen Bioteknologi, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Kesimpulannya

Penemuan enzim Drt3b yang mampu membuat DNA dari protein merupakan salah satu temuan paling mengejutkan dalam biologi molekuler modern. Temuan ini tidak hanya menantang dogma lama, tetapi juga membuka peluang besar bagi bioteknologi, rekayasa genetik, dan pemahaman baru tentang evolusi sistem kehidupan. Bagi mahasiswa bioteknologi, ini adalah contoh nyata bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang. Dogma bukan batas, tetapi titik awal untuk menemukan hal-hal baru.

Sumber: science.org dan AI

Referensi:

1)Science.org – Scientists stunned by fundamentally new way life produces DNA

2)DongA Science – Laporan penemuan enzim DRT3

3)Stanford University – Studi sistem pertahanan bakteri DRT3 dan enzim Drt3b